Rabu, 02 April 2014

fiqih dakwah



Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Fiqih Dakwah

Dalam hidup didunia kita diperintahkan untuk mengajak yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar. Oleh sebab itu dakwah sangat berperan penting dalam menyebarkan kebaikkan baik  dalam lingungan formal maupun non formal. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasullah SAW. Beliau mengajak orang-orang arab untuk beriman kepada allah SWT dan meninggalkan berhala-berhala yang telah mereka sembah, bahwa sesungguhnya berhala-berhala yang mereka sembah tidak mendatangkan apa-apa bagi mereka. Sebelum kita jauh membahas tentang fiqih dakwah, sebaiknya kita harus memahami apa dakwah itu….?
Dakwah dalam bahasa adalah mengajak atau menyeru, sedangkan menurut istilah dakwah memiliki banyak pengertian ;

1.      Da’watun Naas Ilallah, mengajak manusia ke jalan Allah. Dakwah tidak mengajak manusia kepada sang dai, tetapi semata-mata kepada Allah. Sang dai yang berperan sebagai pembimbing dan fasilitator, manusia diajak menuju kepada Allah.
firman Allah berikut ini:
“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah  kepada Allah dengan hujah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf [12]: 108).
Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang mengikuti Rasulullah saw adalah orang-orang yang mengambil dakwah sebagai jalan hidupnya. Ini artinya, jika kita ingin menjadi pengikut Rasulullah saw maka tidak bisa tidak kita harus mau berdakwah.

2.      Bil Hikmah Wal Mau’izhatil Hasanah, dilakukan dengan penuh hikmah dan dengan pelajaran yang baik. Dakwah tidak boleh dilakukan dengan cara yang kasar atau dengan pemaksaan. Tidak pula dengan cara mengolok-olok ataupun vonis sana vonis sini. Nahnu du'aat laa qudhaat "Kita adalah para dai, bukan tukang vonis".
3.      Hatta Yakfuruu Bith Thaghut Wa Yu’minuu Billah, sampai manusia yang diajak itu mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah. Dakwah mengajak manusia kepada tauhid, mengingkari berbagai bentuk thaghut. Tidak ada penghambaan kecuali hanya kepada Allah. Tidak ada penghambaan kepada berhala. Tidak ada penghambaan kepada manusia yang lain. Tidak juga penghambaan kepada hawa nafsu atau ideologi-ideologi sesat.
4.      Liyakhrujuu Min Zhulumaatil Jaahiliyah Ilaa Nuuril Islam, agar manusia keluar dari gelapnya kejahiliyahan menuju pada terang benderangnya Islam. Dakwah adalah gerakan pencerahan, yang akan membimbing manusia meninggalkan kejahiliyahan kehidupan dalam berbagai bentuknya, untuk menikmati indahnya ajaran Islam, yang tidak lain merupakan fitrah dari manusia itu sendiri.
Dalam berdakwah ada beberapa unsur yang harus kita perhatikan diantaranya dalam firman allah Q.S yusuf : 108 yang artiya :
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.
Dari firman allah diatas dapat kita petik beberapa unsure :
a.       Qul hadzihi sabili (Katakanlah, inilah jalanku).” Demikianlah dakwah harus menjadi jalan hidup, misi hidup. Perintah “katakanlah” disini bermakna deklarasi, yang menyiratkan suatu kebanggaan. Bangga karena meniti jalan yang diridhai dan dicintai oleh Allah.
Mengapa dakwah harus dijadikan jalan hidup dan misi hidup? Tidak lain karena kita membutuhkan dakwah dan bukan dakwah yang membutuhkan kita. Karena itu, kita tidak ingin tertinggal gerbong kereta dakwah.
b.       “Ad’uu ilalLah (Aku mengajak kepada Allah).” Ini artinya dakwah hanyalah mengajak kepada Allah, bukan kepada yang lain atau untuk tujuan yang lain. Tidak pula mengajak kepada pengkultusan individu sang dai.
c.       “Alaa bashirah (Berdasarkan hujjah atau argumentasi yang jelas).” Demikianlah dakwah harus dibangun diatas ilmu yang benar, pemahaman yang benar mengenai perkara yang kita dakwahkan yaitu ajaran Islam. Dakwah harus disampaikan dalam bentuk al-balagh al-mubin “penjelasan yang betul-betul jelas”, yang tidak menyisakan ruang bagi pikiran waras manusia untuk menolaknya.
d.       “Ana wa manit taba’ani (Aku dan orang-orang yang bersamaku).” Ini artinya bahwa dakwah harus dilakukan secara bersama-sama (berjama’ah), tidak sendiri-sendiri. Dakwah adalah al-haq, yang hanya akan menjadi kuat tatkala diusung secara berjamaah, dan akan menjadi lemah ketika dilakukan sendiri-sendiri. Bagaiman mungkin kita mendakwahkan kebenaran sendiri-sendiri, sementara para pejuang kebatilan bergandengan tangan untuk mempertahankan kebatilan mereka?
Dari pengertian dan unsur diatas, dapat kita pahami kalau dakwah sesungguhnya memang penting bagi diri kita, karena dengan dakwah pula sumber untuk ruhiyah kita. Jika badaniyah, sumber energinya berupakan makanan dan minuman sedangkan batiniyah kita dengan dakwah dan terus mendekatkan diri kepada allah SWT. Kita sebagai generasi muda harus siap memposisiskan diri kita untuk berdakwah dimana pun kita berada.
Sekian resume yang dapat saya berikan ada kekurangan dan kesalahan saya mohon ma’af
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar